assalamu’alaikum ustadz.. bolehkah kita sbg muslim mengamalkan doa nabi sulaiman, seperti di QS. Shad: 38, agar dimudahkan dalam hal rejeki dan harta?.. terima kasih.
Jawab:
Wa “alaikumus salam wa rahmatullah
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Doa yang dimaksud adalah permohonan Nabi Sulaiman
‘alaihis shalatu was salam yang Allah ceritakan dalam
al-Quran,
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Sulaiman
berdoa: “
Ya
Rabku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak
dimiliki oleh seorang-pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Pemberi.” (QS. Shad: 35)
Salah satu diantara kekuasaan Sulaiman, yang tidak mungkin dimiliki
orang lain adalah beliau bisa mengendalikan dan menguasai jin. Sehingga
semua jin menjadi tunduk dan patuh kepada Sulaiman. Beliau juga bisa
menguasai
binatang. Sehingga pasukan Sulaiman tidak hanya manusia, tapi mencakup jin dan binatang.
Allah kabulkan permohonan Sulaiman, sebagai tanda bagi seluruh umat
manusia, bahwa Allah kuasa untuk melakukan apapun sesuai yang Dia
kehendaki. Termasuk memberikan kekuasaan kepada salah satu dari
hamba-Nya yang tidak lazim dimiliki manusia.
Makna Doa Sulaiman,
Mengenai makna doa Sulaiman, “
anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang-pun sesudahku.” Di sana ada 2 pendapat
ulama,
Pertama, beliau memohon kepada Allah agar tidak ada yang mampu menggulingkan kekuasaan beliau sampai beliau meninggal.
Kedua, beliau memohon kepada Allah agar beliau diberi kekuasaan yang tidak layak untuk dimiliki siapapun setelah beliau.
Al-
Hafidz Ibnu Katsir lebih menguatkan pendapat kedua. Ibnu Katsir mengatakan,
والصحيح أنه سأل من الله تعالى ملكا لا يكون لأحد من بعده من البشر مثله
Yang benar, Sulaiman memohon kepada Allah kerajaan yang tidak boleh
dimiliki oleh manusia siapapun setelah beliau. (Tasir Ibnu Katsir,
7/70).
Karena itulah, siapapun manusia, dia tidak bisa memiliki kemampuan
sebagaimana Sulaiman. Sehingga tidak ada manusia yang bisa menguasai jin
atau binatang, kecuali atas mukjizat dari Allah. termasuk Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri. Beliau tidak mau melangkahi doa Sulaiman ini.
Suatu ketika, pada saat mengimami
shalat, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan gerakan yang berbeda di luar kebiasaannya. Pagi harinya, Beliau menceritakan,
إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ
البَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ الصَّلاَةَ، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ،
فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي المَسْجِدِ
حَتَّى تُصْبِحُوا وَتَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ قَوْلَ
أَخِي سُلَيْمَانَ: رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ
بَعْدِي فَرَدَّهُ خَاسِئًا
“Ada jin ifrit menampakkan diri kepadaku tadi malam,
untuk mengganggu shalatku. Kemudian Allah memberikan kemampuan
kepadakku untuk memegangnya. Aku ingin untuk mengikatnya di salah satu
tiang masjid,
sehingga pagi harinya kalian semua bisa melihatnya. Namun saya teringat
doa saudaraku Sulaiman: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah
kepadaku kekuasaan yang tidak dimiliki oleh seorangpun sesudahku.”
Kemudian beliau melepaskan jin itu dalam keadaan terhina.” (HR.
Bukhari 461 & Muslim 541).
Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mau
mengikat jin itu di tiang masjid. Karena jika hal itu beliau lakukan,
berarti beliau telah menguasai jin. Sementara kemampuan bisa menguasai
jin, merupakan keistimewaan Sulaiman. Karena teringat doa Sulaiman, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam melepaskan jin itu.
Apakah Doa ini Bisa Ditiru?
Ada beberapa doa nabi yang itu bagian dari mukjizat beliau. Sehingga
hanya berlaku untuk beliau dan bukan untuk ditiru. Karena manusia selain
mereka, tidak mungkin memiliki mukjizat.
Seperti doanya Nabi
Isa ‘alaihis shalatu was salam yang beliau memohon kepada Allah agar diturunkan hidangan dari langit. Allah menceritakan doa Nabi Isa,
قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ
عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا
وَآَخِرِنَا وَآَيَةً مِنْكَ
Isa bin Maryam berdoa, “Ya Allah, turunkan untuk kami hidangan dari langit, yang hari turunnya akan menjadi hari raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau…” (QS. al-Maidah: 114).
Termasuk juga doa Nabi Musa
‘alaihis shalatu was salam, yang beliau memohon kepada Allah agar bisa melihat-Nya. Allah ceritakan dalam al-
Quran,
قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ
تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ
فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا
وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا
Musa berdoa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan
berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke
bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya
kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung
itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.” (QS. al-A’raf: 143).
Atau doa Nabi Ibrahim, agar beliau diperlihatkan bagaimana cara Allah
menghidupkan makhluk yang telah mati. Allah sebutkan doa ini dalam
al-Quran,
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِي
الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ
قَلْبِي
“Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana
Engkau menghidupkan orang-orang mati”. Allah berfirman: “Belum yakinkah
kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar
hatiku tetap mantap (dengan imanku)…” (QS. al-
Baqarah: 260).
Termasuk diantaranya adalah doa Nabi Sulaiman ‘alaihis salam. Karena
doa ini bagian dari mukjizat beliau, maka tidak berlaku untuk yang lain.
Sehingga orang lain tidak boleh menjadikannya sebagai doa, baik
tujuannya untuk mendapatkan kekuasaan atau memperlancar rizki atau
tujuan lainnya.
Allahu a’lam.
sumber : http://puasaramadhan.com/